Friday, December 28, 2012

KTSP Sudah Bagus, Sayang Evaluasinya Lewat UN

 


JAKARTA, KOMPAS.com (28/12/2012) - Penelitian internasional yaitu TIMSS mengindikasikan bahwa daya nalar anak Indonesia masih rendah. Kemampuan anak Indonesia dalam mengerjakan soal hanya sampai pada level intermediate yaitu tingkatan mengaplikasikan jawaban saja karena dibekali ilmu pengetahuan.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan daya nalar anak Indonesia ini dinilai rendah karena selama ini anak-anak dididik hanya menghafal saja bukan mempertajam pikiran dengan berbagai kemungkinan jawaban yang timbul dari suatu masalah atau bahasan.

"Hal semacam ini dapat terjadi juga kembali lagi pada gurunya. Guru yang kreatif akan mampu menghasilkan anak yang kreatif," kata Retno saat jumpa pers Catatan Akhir Tahun 2012 FSGI di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata, Jakarta, Kamis (27/12/2012).

Namun sayangnya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak pernah serius dalam memperbaiki kualitas guru. Pembinaan guru harusnya dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus bukan musiman atau hanya tergantung kebutuhan saja.

"Contohnya UKG saja dadakan. Itu juga nggak ada gunanya. Tidak ada kepedulian untuk mengelola kapasitas guru," j
elas Retno.

Permasalahan lain yang mengakibatkan daya nalar anak juga terus ada di urutan rendah karena Ujian Nasional (UN) tetap dipaksakan ada oleh pemerintah. Padahal dengan adanya UN ini, kurikulum jenis apapun dengan metode pembelajaran apapun akan mentah kembali.

"Contohnya KTSP ini sudah bagus karena menyesuaikan kondisi sekolah masing-masing. Tapi penentu kelulusannnya UN yang sama secara nasional. Ya mau nggak mau kan guru jadi mengajar sesuai dengan kebutuhan itu bukan sesuai dengan kondisi sekolah dan siswanya," tandasnya.

 
Editor :
Caroline Damanik
------
Artikel lainnya :
Artikel Terkait

0 comments: