Thursday, December 27, 2012

Kurikulum 2013 : Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Tak Imbang



JAKARTA, KOMPAS.com (27/12/2012) - Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengganti kurikulum terus menuai kritik tajam dan penolakan dari berbagai pihak. Kompetensi dalam kurikulum baru ini dinilai tidak seimbang.

Pengamat pendidikan dari Perguruan Kanisius, Romo Baskoro, mengatakan bahwa pengurangan mata pelajaran ini dinilai lumrah tapi kemudian bobot mata pelajaran yang ada ditambah begitu saja. Hal ini tidak dapat dilakukan tanpa alasan pedagogik yang jelas mengingat penyusunan kurikulum harus memiliki landasan pedagogik yang kuat.

"Ini saya lihat antara kompetensi inti dan kompetensi dasar itu jomplang. Harusnya tidak demikian,"
kata Baskoro pada Kompas.com, Rabu (26/12/2012).

Selanjutnya, ia mengambil contoh satu mata pelajaran yaitu Agama. Mata pelajaran ini akan ditambah bobotnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan alasan agar membentuk anak-anak berperilaku baik dan berbudi pekerti luhur dalam kehidupan sosialnya.

"Siapa yang jamin sekarang kalau mata pelajaran agama ditambah lalu anak-anak jadi baik. Esensinya bukan itu,"
ujar Baskoro.

"Contohnya saja, orang rajin ke gereja belum tentu jadi orang baik lho. Karena tujuan dia ke gereja apa dulu dan ngapain saja. Ada yang ke gereja hanya duduk saja misalnya. Nah ini hampir sama seperti itu,"
imbuhnya.

Untuk itu, ia meminta pada pihak kementerian untuk mau mendengarkan pendapat dari elemen masyarakat yang menolak penerapan kurikulum baru pada 2013 mendatang. Ia yakin bahwa masyarakat yang menolak tersebut memiliki alasan yang jelas.

"Banyak catatan yang muncul dan itu ada landasannya jelas. Jadi yang menolak itu bukan asal kritik ngawur. Mereka punya alasan yang baik dan jelas. Jadi pemerintah belajar mendengarlah,"
tandasnya.
 
Editor :
Caroline Damanik
 
----------
Artikel lainnya :
Artikel Terkait

0 comments: