Saturday, December 29, 2012

Refleksi Akhir Tahun 2012: SAKITNYA Pendidikan Kita !


Dalam hitungan jari, sebentar lagi tahun 2012 akan berlalu dan berganti dengan tahun baru 2013. Idealnya semua akan bergembira dengan pergantian tahun itu, namun raport yang diterima dari Sekolah Pendidikan kita, menunjukkan NILAI MERAH yang mengisyaratkan bahwa pendidikan kita sedang SEHAT SAKIT.

Saya mencatat, minimal LIMA HAL yang mencerminkan bahwa wajah pendidikan kita “terpuruk” di tahun 2012 ini, yakni:

PERTAMA, maraknya perkelahian pelajar, bahkan sampai mengambil korban jiwa. Sungguh mengerikan, jika menegok data tentang tawuran pelajar ini : Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan jumlah korban tawuran yang meningkat dari tahun sebelumnya, yakni sedikitnya sudah 17 pelajar meninggal dunia akibat tawuran di wilayah Jabodetabek sejak 1 Januari 2012 hingga 26 September 2012. Sementara data dari Komnas Anak, menyebutkan bahwa jumlah tawuran pelajar mengalami kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, terjadi 139 kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Sementara pada 2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia.

Ternyata perkelahian atau tawuran pelajar/mahasiswa, masih belum hilang sama sekali dari kehidupan masyarakat kita. Tawuran yang seringkali berakibat fatal dengan jatuhnya korban jiwa (baik cacat maupun tewas), juga rusaknya fasilitas sekolah/kampus/umum, ternyata belum mampu membuat oknum siswa/mahasiswa itu jera untuk menghentikannya. Tawuran pun tidak mengenal peringkat sekolah (SSN atau RSBI), level sekolah (SMP/SMA), Sekolah Negeri atau Swasta, Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta, semuanya terlibat dalam perkelahian massal kalangan terdidik.


KEDUA, peringkat sistem pendidikan Indonesia adalah terendah di dunia, menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Perankingan itu memadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010, hasilnya Indonesia berada di posisi tertinggi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Adapun negara besar seperti Inggris pun hanya menempati posisi keenam., tempat pertama dan kedua diraih oleh Finlandia dan Korea Selatan. Dua kekuatan utama pendidikan, yaitu Finlandia dan Korea Selatan, diikuti kemudian oleh tiga negara di Asia, yaitu Hong Kong, Jepang dan Singapura. Faktor kesamaan yang mendukung suksesnya pendidikan di Finlandia dan Korea Selatan itu adalah keyakinan terhadap kepercayaan sosial atas pentingnya pendidikan dan “tujuan moral”. Kesuksesan negara-negara Asia dalam ranking ini merefleksikan nilai tinggi pendidikan dan pengharapan orang tua.

Sir Michael Barber, penasihat pendidikan utama Pearson, mengatakan bahwa negara-negara yang berhasil memiliki ranking tinggi tsb adalah karenan memberikan status tinggi pada guru dan memiliki “budaya” pendidikan. Selain itu, laporan itu juga menekankan pentingnya guru berkualitas tinggi dan perlunya mencari cara untuk merekrut staf terbaik.

KETIGA, merosotnya nilai kemampuan matematika dan sains para siswa Indonesia pada lingkup dunia. Hasil kajian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2012, yang menilai kemampuan siswa kelas VIII di bidang Matematika, menempatkan Indonesia di urutan ke-38 dari 42 negara. Malaysia, Thailand, dan Singapura berada di atas Indonesia. Hasil sains pun sungguh mengecewakan, yakni Indonesia di urutan ke-40 dari 42 negara. Yang mencengangkan adalah nilai matematika dan sains siswa kelas VIII Indonesia berada di bawah Palestina yang negaranya didera konflik berkepanjangan.

KEEMPAT, tingginya angka siswa putus sekolah di Indonesia.  Pada kelompok anak usia sekolah, sedikitnya setengah juta anak usia SD dan 200.000 anak usia SMP tidak dapat melanjutkan pendidikan. Tingginya jumlah anak putus sekolah ini juga turut menjadi faktor rendahnya Education Development Index Indonesia, yakni peringkat ke-69 dari 127 negara. “Kita bukan mengejar peringkat di kajian atau survei internasional. Akan tetapi, hasil kajian ini seharusnya jadi alarm untuk refleksi secara serius mengapa pendidikan kita menurun. Mengapa kita, siswa, guru, sistem, dan kualitas pendidikan Indonesia terus terpuruk,” kata Retno selaku Sekretaris Jenderal FSGI (Forum Serikat Guru Indonesia).

KELIMA, masalah korupsi yang saat ini tidak hanya menjerat lingkaran elite - lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, namun juga institusi pendidikan juga turut terbawa. Kasus Angie, serta ditetapkannya beberapa PEJABAT KAMPUS sebagai tersangka oleh KPK menunjukkan bahwa ternyata lembaga pendidikan pun rawan terhadap berbagai tindak korupsi di dalamnya.

Sektor pendidikan menjadi salah satu “lahan” yang dianggap “subur” bagi praktik korupsi. Tim Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis, dalam semester I tahun 2012, mulai Januari hingga Juni, tercatat ada 17 kasus dugaan korupsi di institusi pendidikan. Jumlah ini menempati posisi ketiga, setelah kasus dugaan korupsi yang ada di pemerintah daerah dan BUMN/BUMD.  Peneliti ICW, Febri Hendri, menambahkan, dalam sektor pendidikan, modus korupsi yang paling dominan adalah mark up atau penggelembungan harga pada pengadaan barang dan jasa. Febri mengatakan, kasus itu banyak terjadi di daerah dibandingkan universitas atau sekolah yang ada di Ibu Kota. Penyebabnya adalah lemahnya pengawasan, baik internal maupun eksternal pemerintah.

DUH SAKIT, rasanya kok - miris sekali melihat wajah pendidikan kita ini. Kalau meminjam istilah yang digunakan oleh FSGI, adalah bahwa kualitas pendidikan Indonesia saat ini STAGNAN, bahkan MEMBURUK. Banyak hal yang menyebabkan ini, selain faktor pembinaan guru yang tidak digarap profesional oleh pemerintah, maka kebijakan pendidikan yang berorientasi proyek pun disinyalir menjadi biang keladinya. FSGI pun menyampaikan: “Kebijakan yang diambil justru berorientasi proyek. Tak heran, banyak kebijakan pendidikan yang dibuat pemerintah mubazir dan menghambur-hamburkan uang negara”.

Belum selesai dengan berbagai PR di tahun 2012 ini, maka saat ini insan pendidikan disibukkan dengan dua hal yakni pembenahan kurikulum dengan munculnya KURIKULUM 2013 dan pembenahan profesionalitas guru dengan PENEGAKAN KEMBALI KEGI (Kode Etik Guru).

Point pertama, tentang KURIKULUM 2013: Mendikbud menyampaikan, bahwa kurikulum ini akan banyak membantu guru dalam implementasi di lapangan dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya (KTSP).  Pada kurikulum baru nanti, guru tak lagi dibebani dengan kewajiban untuk membuat silabus untuk pengajaran terhadap anak didiknya seperti yang terjadi pada saat KTSP. Pada kurikulum baru ini pemerintah akan mengambil alih pembuatan silabus. Hal ini berdasarkan evaluasi KTSP di lapangan yang selama ini kedodoran karena kemampuan guru yang beragam dalam membuat silabus.

Point kedua, tentang KEGI : menurut PB-PGRI (Kompas, 26 Nov 2012), penegakan kode etik guru Indonesia yang disiapkan organisasi guru Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), bertujuan untuk menegakkan kehormatan dan wibawa guru yang profesional. Adanya kode etik guru, menjadi acuan bagi guru dalam bertindak sesuai profesinya yang selama ini TIDAK JELAS. Kode etik pun menjadi acuan, untuk dapat melihat sejauh mana guru mengemban tugasnya dengan menjunjung etika profesi. Kode etik guru yang mulai ditegakkan pada 2013, berisi 70 panduan etika dan norma bagi guru dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik. Panduan tersebut mengatur tujuh hubungan guru dengan peserta didik, orang tua/wali murid, masyarakat, sekolah dan rekan sejawat, profesinya, organisasi profesi gurunya, dan pemerintah.

Saya selaku pendidik, berharap besar bahwa dua hal baru yang akan digarap SERIUS oleh Pemerintah pada tahun mendatang menjadi OBAT untuk menghilangkan SAKIT, minimal mengurangi RASA SAKIT (nilai merah) di Raport Pendidikan kita. Semoga !!!
------
Penulis: M Yusro (Kompasiana 29/12/2012)
Artikel Terkait

0 comments: