Friday, January 4, 2013

Kualitas Pendidikan Menurun Karena Korupsi?

 

JAKARTA, KOMPAS.com (4/1/2012) - Meski berhasil meraih peringkat tertinggi dalam tingkat kementerian berdasarkan survei integritas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hal tersebut terjadi tidak berpengaruh pada opini Badan Pengawas Keuangan (BPK) atas laporan keuangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2011.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Siti Juliantari Rachman, mengatakan bahwa Kemendikbud kembali mendapat predikat disclaimer atas laporan keuangannya. Meski opini BPK bukan satu-satunya indikator adanya korupsi, namun menurutnya, ini dapat menjadi pertanda bahwa masih ada masalah dalam pengelolaan keuangannya.

"Hal ini bisa jadi alasan ada ketidakwajaran dalam pengelolaan keuangannya. Bukti pertanggungjawabannya belum akuntabel," kata Tari saat jumpa pers Indonesia Education Outlook 2013 di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Rabu (2/1/2013).

Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya kasus korupsi di lingkungan pendidikan memang rawan terjadi. Bahkan kasus korupsi ini bisa terjadi dari tingkat paling kecil yaitu sekolah seperti penyalahgunaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang umumnya dilakukan oleh para kepala sekolah.

Contohnya peristiwa di SMA Negeri 70 yang menggambarkan bentuk penyimpangan di tingkat sekolah terhadap pengelolaan keuangan. Dana yang ditarik dari orang tua siswa ternyata sebagian digunakan untuk menggaji kepala sekolahnya sebesar Rp 20-30 juta per bulan di luar gajinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Komite sekolah bahkan mendukung hal ini. Akibatnya ada orang tua murid yang ingin mengungkap kasus ini justru dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik," jelas Tari.

Hal ini diperkuat dengan penelitian Transparency International (TI) yang mengungkap bahwa persepsi dan pengalaman dari 35 persen warga dunia dengan korupsi pada tahun 2011 berada dalam ranah pendidikan di negara masing-masing. Padahal korupsi pada bidang ini lebih merugikan karena berkaitan dengan merosotnya akses, kuantitas dan kualitas pendidikan.

"Ini terbukti di Indonesia. Pendidikan makin lama makin rendah kualitasnya. Penelitian internasional juga memperkuat itu," tandasnya.
 
Artikel Terkait

0 comments: