Tuesday, May 14, 2013

Dosa Besar Mahasiswa

http://3.bp.blogspot.com/-8942X49vxus/T3ZpMOu024I/AAAAAAAAAJA/7sDY79NXSE8/s1600/agent-of-change.png

Penulis : Mahfudz Fauzi
Agent of social change“. Masih ingatkah dengan pernyataan tersebut? Sungguh sangat menarik jika ditelisik mendalam dan dikaji ulang. Sebab, hanya karena predikat tersebutlah derajat  mahasiswa diunggul-unggulkan. Dengan berbagai persepsi, baik dari kalangan awam maupun terdidik, semua mengamini hal tersebut.

Jika dirasionalkan memang masuk akal. Sebab, dilihat dari konteks penamaannya,  mahasiswa berasal dari dua kata, maha dan siswa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mahasiswa berarti besar, amat, sangat. Sedangkan siswa adalah murid. Dapat disimpulkan bahwa, mahasiswa merupakan seorang murid yang besar.

Besar di sini tentu dalam tanda kutip. Memang mengandung berbagai interpretasi, namun  pada hakikatnya sangat mudah jika dilogika. Besar dalam hal derajat, tingkat, atau besar dalam hal beban yang diemban oleh mahasiswa itu sendiri. Hal tersebut merupakan sebuah kewajaran. Sebab, secara formal mahasiswa menempati posisi puncak (Akhir).

Dengan kondisi tersebut, masyarakat memanggap bahwa mahasiswa dapat berbuat segalanya. Mereka tidak mau tahu bagaimana bentuk dan wujud, serta harkat dan martabat  mahasiswa. Jika mahasiswa pasti orang hebat, yang dapat berbuat segala hal tanpa terkecuali. Terutama, memberi warna baru terhadap lingkungan sekitarnya.

Pengabdian terhadap negara
Eksistensi mahasiswa dalam tataran negara juga sangat sentral. Sebab, lewat semangatnya, pemikirannya, serta usaha-usaha yang penuh dengan kekreatifan dapat menjadi sumbangsih berharga terhadap negara. dengan bermodal kepekaannya terhadap segala hal, tentu dapat menjadi alat penting bagi negara.
Peka di sini adalah dalam hal baru. Baik yang bersifat penyelewengan ataupun sebuah pencapaian luar biasa. Dengan hakikat mahasiswa yang notabene berdarah muda, dengan semangat-45, mereka siap tanggap seperti halnya petugas pemadam dikala musibah kebakaran terjadi.

Dapat dilihat realitanya, berbagai inovasi dan kreasi apik diciptakan oleh mahasiswa negri. Dalam bidang masing-masing, ciptaannya mampu mendobrak hingga kancah internasional. Tidak tanggung-tanggung, tidak sedikit karya mahasiswa negeri yang mampu menggaet berbagai penghargaan di luar negewri atas prestasinya.

Dengan demikian, secara tidak langsung mereka telah membawa nama baik negara. Setidaknya, dengan berbagai hasil pemikirannya mampu mengangkat kondisi Indonesia menuju ke yang lebih baik. Seperti halnya yang di damba-dambakan oleh masyarakat, kemaslahatan segera dirasakan hingga anak cucu nanti.

Yang diharapkan oleh masyarakat memang kemaslahatan hakiki. Hidup makmur, aman, tentram, sehingga segala aktifitas sehari-hari dapat dilakukan dengan sepenuh hati, bukan makan hati. Mengingat kondisi negeri yang amburadul. Dengan hal tersebut, wajar jika seorang mahasiswa dituntut habis-habisan untuk menjadi seorang revolusioner.

Sebab, jika menengok ke belakang dedikasi mahasiswa memang benar-benar nampak. Peran Soe Hok Gie, 1966 yang telah berhasil melumpuhkan orde lama. Selanjutnya, lewat sumbangsih Hariman Siregar tahun  1974 berhasil memboikot Jepang. Belum lagi, peristiwa di 1998. Jadi sangat irasional jika dedikasi mahasiswa terjalin secara abstrak.

Mahasiswa antara das sein dan sollen
Berbicara tentang eksistensi mahasiswa terhadap negara, memang cukup rumit. Sebab, jika ditela’ah lebih dalam, realitanya (das sein) mahasiswa Indonesia mengalami disfungsi. Walaupun ada yang mampu membawa nama baik negara, itupun presentasinya sangat limit. Tak sebanding dengan jumlah mahasiswa di Indonesia.

Sesuai hasil kalkulasi, jumlah mahasiswa Indonesia sekira 4,8 juta. (Kompas.com, 30/11/12) Namun, eksistensi jutaan mahasiswa Indonesia tersebut tak sebanding dengan track record yang dihasilkan olehnya. Justru, tambah tahun tambah pula jumlah pengangguran hasil output mahasiswa dalam negeri.

Sangat disayangkan, harapan bangsa dipupuskan oleh kondisi mahasiswa zaman sekarang. Realitanya memang demikian, mayoritas mahasiswa sekarang lebih mengutamakan life style dibanding dengan life modal. Masa depan  mereka dinomor duakan, kesenangan semulah yang di unggul-unggulkan.

Hari-hari mahasiswa hanya  disibukkan dengan aktivitas datarnya, yang terkesan monoton. Setiap hari yang dilakukan hanya kuliyah pulang-kuliyah pulang (kupu-kupu), atau kuliyah nongkrong pulang (kunang-kunang), dan kuliyah rapat-kuliah rapat (kura-kura).

Padahal, seharusnya (das sollen) mahasiswa lebih peka, dan bersikap futuristik demi masa depan nusa, bangsa, dan agamanya. Masih mending jika mereka telaten dalam hal perkuliahan. Tentu dari segi materi perkuliyahan. Tak usah pikir panjang, jika memang demikian yang dilakukan oleh mahasiswa. Pasti outputnya menjadi seorang yang pintar dalam bidangnya. Namun, pintar disini masih dalam lingkup lokal.

Sebab, jika ditelaah lebih dalam output mahasiswa yang notabene pintar sangat banyak. Namun, yang  tidak mempunyai relasi pasti terjebak pengangguran seperti halnya mahasiswa lain. Sungguh memprihatinkan, pintar namun hanya menambah jumlah pengangguran dalam negeri.

Problem ini harus benar-benar ditanggapi dengan serius, dengan usaha nyata dan target jelas. Sudah sepatutnya mahasiswa sadar dengan problematika ini. Jiwa nasionalismenya harus dibangun sejak dini, dan dengan bumbu religi yang cukup. Sehingga, keduanya mampu bersinergi dan menopang satu sama lain.

Memaksimalkan aktivitas kampus memang hal positif. Terlebih dalam hal akademik. Namun, yang perlu diperhatikan dengan khusus adalah pengalaman dalam suatu organisasi.

Sebab, dengan berorganisasilah mahasiswa dapat pengalaman yang beda dari apa yang didapat di kampus. Yang paling penting adalah, mendapat relasi teman yang banyak.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa beradaptasi di lingkungan akademikus yang terpenting adalah berproses lewat organisasi. Maka timbul wacana bahwa, yang wajib adalah organisasi. Sebab, dengan berakselerasi di dalam organisasi akan menimbulkan jiwa leader yang berideologi nasionalisme.

Oleh karena itu, output mahasiswa jelas arah dan tujuannya. Dengan modal yang cukup, mampu menjadi revolusioer. Dalam hal ini das sollen terpenuhi, dan das sein mahasiswa yang cukup memprihatinakan akan sirna. Pasalnya, Indonesia pada hakikatnya butuh darah baru yang mempunyai jiwa perubahan.

Karena itu, riwayat mahasiswa jelas, yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Sebab, sesuai dengan teori piramida sosialnya Karl Max mahasiswa menempati posisi vital. Yaitu sebagai pengotrol antara aparat negara dan warga negara. Wallahu a’lam bi al-shawab.

-----
Mahfudh Fauzi
Mahasiswa Syari’ah IAIN Walisongo Semarang dan
Peraih Beasiswa Unggulan Monash Institute (//ade)

Sumber : http://www.dikti.info/2013/05/14/dosa-besar-mahasiswa/#comment-49
Artikel Terkait

0 comments: