Saturday, August 10, 2013

Profesi Guru Kini Jadi Rebutan Kawula Muda



OKEZONE-JAKARTA - Guru bukanlah sebuah profesi yang menjadi incaran kawula muda masa kini. Guru pun kalah bersaing dengan pekerjaan seperti dokter maupun pengusaha. Padahal di zamannya, guru adalah profesi yang sangat membanggakan.


Namun, belakangan profesi guru kembali naik daun. Kesejahteraan guru yang semakin meningkat menjadi salah satu alasan kawula muda Tanah Air memilih guru sebagai bidang karier mereka di masa depan.

"Sekarang jadi guru rebutan, dulu tidak ada yang mau. Sekarang jadi mahasiswa IKIP rebutan, tidak lagi merasa malu. Ini Alhamdulliah karena pemerintah lebih perhatian terhadap guru jadi sekarang banyak yang ngiri ingin jadi guru, apalagi di DKI Jakarta," ungkap Guru SMAN 28, Sajita ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Dia menyebut, saat ini penghasilan seorang guru memang sangat memadai. Namun, lanjutnya, mereka tidak mengalami masa-masa sulit dari profesi guru. Menggeluti profesi guru selama 28 tahun, Jita -begitu panggilan akrabnya- pernah merasakan mirisnya penghasilan pahlawan tanpa tanda jasa itu.

"Tapi ini baru beberapa tahun, mereka tidak mengalami penderitaan guru puluhan tahun lalu. Jadi guru dicibir. Bahkan dulu saya sangat sedih, sekira 1985-1986, gaji satpam bisa lima kali lebih besar dari saya. Gaji satpam BRI waktu itu Rp125 ribu, sementara saya hanya seperlimanya," papar ayah tiga anak itu.

Meski demikian, guru olahraga kelas X dan XI SMAN 28 Jakarta itu mengaku ikhlas menjalani profesi guru yang dipilihnya. Berasal dari keluarga berlatarbelakang guru, keinginan untuk mengikuti jejak tersebut pun muncul sejak masih kecil.

"Pasang surut pasti ada, tapi dinikmati saja. Jadi guru memang susah tapi karena kadung tresno saya lanjutkan saja. Dulu susah saja bisa hidup, Alhamdullilah sekarang ada sisanya," tutur Staf Kesiswaan SMAN 28 Jakarta itu sembari tersenyum.

Naluri menjadi guru seakan mengalir dalam garis keturunan Jita. Namun, pria kelahiran Yogyakarta, 27 Januari 1962 itu menegaskan, tidak pernah memaksa anak-anak maupun muridnya untuk menekuni profesi serupa.

"Anak-anak SMAN 28 jarang yang ingin jadi guru. Mereka lari ke Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Universitas Gadjah Mada (UGM) karena levelnya beda. Paling satu sampai dua siswa di satu angkatan ada yang masuk IKIP. Saya jadi orangtua itu bebas. Hanya memfasilitasi saja sesuai keinginan anak. Tidak pernah saya arahkan harus ke mana," tutupnya.(ade) 
Artikel Terkait