Monday, December 16, 2013

DKI hapus tiga mata pelajaran tingkat SD


Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menghapus tiga mata pelajaran tingkat Sekolah Dasar (SD) untuk tahun ajaran 2013/2014, yaitu Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau ilmu komputer.

"Tiga mata pelajaran itu dihapus dan tidak lagi menjadi mata pelajaran utama tingkat SD. Selanjutnya, tiga mata pelajaran itu berubah menjadi kegiatan ekstrakurikuler," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu.

Menurut Taufik, tiga mata pelajaran tersebut sama dan setara kedudukannya dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah, seperti Pramuka, Unit Kesehatan Sekolah dan sebagainya.

Kendati tiga mata pelajaran tersebut diubah menjadi kegiatan ekstrakurikuler, sambung dia, para siswa tetap akan mendapatkan pelajaran-pelajaran itu dengan metode yang lebih kreatif.

"Jadi, nanti penilaiannya lebih ditekankan kepada pengasahan Emotional Quotient (EQ). Selain itu, ketiga mata pelajaran tersebut juga tidak akan diujikan dalam ujian akhir sekolah," ujar Taufik.

Rencananya, kata dia, ketiga mata pelajaran tersebut akan dihapus secara bertahap mulai dari tahun ajaran 2013/2014 hingga 2016/2017. Tahun ini, penghapusan mata pelajaran baru diberlakukan untuk siswa kelas satu dan kelas tiga SD.

Kemudian, pada tahun ajaran 2014/2015, tiga mata pelajaran itu akan dihapus untuk siswa kelas satu, kelas dua dan kelas empat SD. Lalu, pada tahun ajaran 2015/2016 untuk murid kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan kelas lima.

Terakhir, yaitu tahun ajaran 2016/2017, tidak ada lagi mata pelajaran Bahasa Inggris, Penjaskes dan TIK untuk seluruh kelas di tingkat SD.

"Kalau selama ini ketiga mata pelajaran tersebut menjadi mata pelajaran wajib. Maka, setelah diberlakukannya kurikulum 2013 yang baru ini, tiga mata pelajaran itu menjadi semacam penunjang pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari," tutur Taufik.

Dengan diberlakukannya kurikulum tersebut, dia menambahkan, khusus mata pelajaran Bahasa Inggris, selanjutnya tidak ada lagi sekolah yang menggunakan bahasa itu sebagai pengantar sehari-hari, kecuali untuk sekolah-sekolah internasional.

Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © 2013
Artikel Terkait