Thursday, February 6, 2014

Nilai Ujian Tinggi Tak Berarti Kognisi Tinggi

Nilai Ujian Tinggi Tak Berarti Kognisi Tinggi
Oleh: Kreshna Aditya - Beberapa waktu lalu para peneliti dari MIT, Harvard University dan Brown University merilis hasil penelitian tentang keterkaitan antara nilai ujian standar [standardized test] dengan kemampuan kognisi siswa. Secara ringkas hasilnya tidak mengejutkan dan seperti yang sudah diketahui oleh para pendidik, bahwa siswa dengan nilai ujian standar yang tinggi bukan berarti ia memiliki kemampuan kognisi tingkat tinggi pula.

Penelitian dilakukan terhadap 1.400 siswa kelas 8 di sekolah negeri di Boston. Para peneliti menemukan bahwa beberapa sekolah berhasil meningkatkan nilai siswa pada ujian Masschusetts Comprehensive Assessment System [MCAS], namun ternyata sekolah-sekolah itu tak berpengaruh pada performa siswa dalam uji kemampuan fluid intelligence. Beberapa kemampuan yang termasuk ke dalam fluid intelligence semisal: kecepatan mengolah informasi, kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah abstrak serta kemampuan bernalar dan berlogika. Kemampuan ini juga sering disebut termasuk ke dalam high order of thinking.
Para peneliti menghitung bahwa variasi sekolah mempengaruhi nilai MCAS siswa sebesar 24-34%, namun hanya berpengaruh 3% pada performa fluid cognitive siswa, alias tidak signifikan. Siswa yang dipilih secara acak dari sekolah dengan performa baik memang memiliki nilai MCAS yang lebih tinggi, tapi tidak ada perbedaan signifikan pada kemampuan fluid cognitive.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari penelitian ini. Pertama, ujian standar memang memiliki berbagai keterbatasan, maka tak selayaknya dijadikan fokus utama yang menggambarkan kualitas pendidikan secara utuh, lebih-lebih digadang-gadang sebagai obat dewa untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Tahun lalu, Staf Khusus Mendikbud pernah menulis tentang Ujian Nasional sebagai multimeter yang mengukur kemampuan kognitif siswa secara utuh, mulai dari hapalan sampai dengan analisa dan sintesa. Klaim semacam ini jelas berlebihan, seperti ditunjukkan pada penelitian MIT terhadap MCAS yang sejenis [malah mungkin lebih berkualitas]. Ujian Nasional, sebagaimana telah ditunjukkan melalui perbandingan dengan berbagai pemetaan pendidikan global, telah mendorong anak-anak kita berfokus pada kemampuan low order of thinking. Klaim bahwa Ujian Nasional adalah multimeter yang mencandra kemampuan siswa secara luas dan mendalam harus ditolak.
Pelajaran kedua dari penelitian ini adalah tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh persekolahan formal. Bila kita lihat, perbedaan sekolah berpengaruh pada nilai ujian standar namun tidak berpengaruh pada kemampuan fluid cognitive. Maka tampak bahwa persekolahan formal memang tidak berfokus mengembangkan kemampuan fluid cognitive atau high order of thinking pada diri siswa. Patut menjadi pertanyaan, kemampuan apa yang penting untuk dimiliki siswa agar siap hidup di abad ke-21 ini, serta apakah sekolah telah membekali mereka dengan kemampuan itu.
Seperti dikatakan oleh John Gabrieli dalam wawancara tentang penelitiannya, profesor neurosains dari MIT, penelitian ini bisa jadi pemantik bagi kita untuk memperbaiki sekolah agar memperhatikan pengembangan kemampuan fluid intelligence siswa. Walau kemampuan low order of thinking dan crystallized knowledge juga penting dimiliki siswa, namun siswa juga memiliki dimensi kecerdasan lain yang bisa jadi lebih penting untuk dimiliki saat ini dan tidak layak diabaikan.
Terakhir, berbagai kebijakan pendidikan yang bersifat nasional memang selayaknya diuji oleh penelitian yang menelaah dari banyak aspek, seperti yang dilakukan oleh MIT, Harvard dan Brown University terhadap MCAS ini. Kita perlu mendorong berbagai badan penelitian serta perguruan tinggi untuk menguji efektivitas dan klaim program pendidikan yang dicanangkan pemerintah, baik yang baru berjalan seperti Kurikulum 2013, maupun yang sudah berjalan lama seperti Ujian Nasional. ***
====
Sumber :  Bincang Edukasi di  http://www.bincangedukasi.com/nilai-ujian-kognisi/?
Artikel Terkait