Tuesday, December 16, 2014

10 Kurikulum Pendidikan yang Dipakai Indonesia


Oleh : Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone

JAKARTA (Okezone) - Kurikulum merupakan dasar dan pedoman dalam menjalankan sistem pendidikan nasional. Sepanjang usia kenegaraan, Indonesia pun telah memiliki 10 kurikulum pendidikan.

Dikutip dari laman Ditjen Dikti Kemendikbud, Senin (15/12/2014), perubahan kurikulum itu terjadi pada 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004, 2006 dan 2013. Perubahan ini sendiri merupakan keniscayaan sebagai konsekuensi perubahan zaman. Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan tersebut berasal dari internal Indonesia seperti sistem politik, sosial budaya, ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selain itu, faktor eksternal seperti tingkat daya saing antarnegara juga turut menentukan arah kurikulum pendidikan nasional.

Kemendikbud menyebut, sebagai seperangkat rencana pendidikan, kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Meski demikian, perubahan tersebut tetap mengacu pada Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya ada pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

Secara sederhana, periode 1947-1968 merupakan masa Kurikulum Rencana Pelajaran. Pada masa ini, pemerintah Indonesia yang baru lahir berupaya mengembalikan arah pendidikan yang berorientasi kolonial menjadi pendidikan sesuai kepentingan nasional.

Kemudian, pada periode 1975-1994, kurikulum dirancang untuk berorientasi pada pencapaian tujuan. Sistem pendidikan pada masa ini menekankan materi pelajaran dengan bersumber pada disiplin ilmu. Selain itu, pendidikan berfungsi untuk memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi yang baru.

Periode berikutnya, adalah 2004-2006. Dua kurikulum yang berlaku adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KBK sendiri disusun untuk memenuhi pencapaian penguasaan keterampilan (skill) siswa untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. Sedangkan melalui KTSP, sekolah dapat mengembangkan kurikulum pendidikan sesuai dengan kapasitas masing-masing, dengan mengacu pada standar isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

KTSP digantikan dengan Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter. Dikutip dari kurikulum2013.org ini merupakan kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. 
 
1. Kurikulum 1947
Kurikulum pertama ini disebut Rencana Pelajaran 1947 atau leer plan. Kurikulum ini kental dengan nuansa politis. Ia merupakan upaya mengubah orientasi pendidikan yang berorientasi kolonialis Belanda menjadi berorientasi kepentingan nasional berasaskan Pancasila. Karena pergolakan revolusi, Rencana Pelajaran 1947 pun baru dapat diterapkan pada 1950 sehingga ia kerap disebut sebagai kurikulum 1950.

Susunannya sangat sederhana, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Kurikulum ini mengedepankan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani.

Ada 16 mata pelajaran di tingkat Sekolah Rakyat dengan pelajaran tambahan bahasa daerah di Jawa, Sunda dan Madura. Metode pengajaran pada kurikulum ini ditekankan pada konsep guru mengajar dan murid mempelajari.

2. Kurikulum 1952
Ini merupakan pengembangan dari Rencana Pelajaran 1947. Kurikulum yang dikenal sebagai Rencana Pelajaran Terurai 1952 ini merinci setiap mata pelajaran dan menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Ada lima hal pokok dalam kurikulum ini yaitu pendidikan pikiran harus dikurangi, isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani dan kewarganegaraan masyarakat.

3. Kurikulum 1964
Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964 lahir di penghujung era Presiden Soekarno. Kurikulum ini memfokuskan pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana) peserta didik.
Lima hal pokok dalam kurikulum 1964 adalah manusia Indonesia berjiwa Pancasila, man power, kepribadian kebudayaan nasional yang luhur, ilmu dan teknologi yang tinggi dan pergerakan rakyat dan revolusi. Secara umum, mata pelajaran juga diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi yaitu: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pada tingkatan pendidikan dasar, penekanannya lebih kepada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968
Tujuan pendidikan dalam Kurikulum 1968 adalah menekankan upaya membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani; serta mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

5. Kurikulum 1975
Kurikulum ini adalah berorientasi pada tujuan dan menganut pendekatan integratif. Artinya, setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Kurikulum 1975 juga menekankan efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.

Tidak heran, kelahiran Kurikulum 1975 dipengaruhi konsep management by objective (MBO) yang saat itu terkenal. Kurikulum 1975 juga dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respons (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Pelaksanaannya menggunakan pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem ini senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.

Setiap satuan pelajaran dirinci lagi menjadi petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kritik atas kurikulum ini kebanyakan hadir karena guru jadi lebih sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. 

6. Kurikulum 1984
Kurikulum ini dikenal dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Dengan pendekatan keterampilan proses (skill approach), guru menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan latihan kepada peserta didik.

CBSA sendiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Mereka mengamati sesuatu,mengelompokkan, mendiskusikan kemudian melaporkan hasil pengamatan tersebut.
Orientasi Kurikulum 1984 adalah tujuan instruksional. Tujuan tersebut didasari pandangan bahwa sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas.

7. Kurikulum 1994
Penyempurna Kurikulum 1984 ini mengubah sistem pembagian waktu pelajaran, dari semester ke caturwulan. Dengan begitu, siswa diharapkan dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Penekanan pengajaran adalah pada pemahaman konsep serta keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

Kurikulum 1994 bersifat populis. Artinya, satu kurikulum diberlakukan secara merata untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

8. Kurikulum 2004
Kurikulum 2004 lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Titik beratnya adalah pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Karena berorientasi pada pencapaian kompetensi individu siswa itulah, maka penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode bervariasi. Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa dapat mencari sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif. Proses penilaian menekanakan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9. Kurikulum 2006 (KTSP)
Setelah KBK, lahirlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum yang diluncurkan pada 2006 ini memberikan otoritas kepada guru dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolahnya.

Dalam mengembangkan kurikulum, guru mengacu pada kerangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL) serta standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD). Ketiga parameter tersebut sudah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayan - red) untuk setiap mata pelajaran pada tiap jenjang pendidikan.

10. Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah dicetuskan pada masa kepemimpinan Mendikbud M Nuh untuk menggantikan KTSP. Ia menekankan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Pada kurikulum 2013, siswa dituntut untuk memahami materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.

Pada kurikulum 2013, siswa harus mengikuti mata pelajaran wajib dan bisa menentukan sendiri mata pelajaran pilihan mereka. Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah yaitu di SMA dan SMK.

Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik integratif untuk jenjang sekolah dasar (SD). Pendekatan ini mengintegrasikan seluruh mata pelajaran dalam bentuk tema-tema. Artinya materi ajar tidak disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu.

Kontroversi seputar Kurikulum 2013 muncul karena penerapannya dinilai tergesa-gesa dan tanpa evaluasi mendalam terhadap KTSP. Beberapa hal yang menjadi sorotan pokok pelaksanaan kurikulum 2013 adalah kesiapan guru, kesiapan fasilitas sekolah dan kesiapan logistik seperti buku teks.

Awal Desember, Mendikbud Anies Baswedan pun memutuskan pembatasan penerapan Kurikulum 2013. Sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester dapat melanjutkan pemakaiannya. Sedangkan sekolah yang baru memakai Kurikulum 2013 selama satu semester diimbau untuk kembali ke KTSP.
 
---------
Sumber :  http://news.okezone.com/read/2014/12/14/65/1079116/kurikulum-pendidikan-cbsa-hingga-2013
Artikel Terkait

0 comments: